Wednesday, April 11, 2012

PENGERTIAN BERPIKIR DAN MENGINGAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide-ide yaitu proses simbolis contohnya. Kalau kita membayangkan suatu makanan yang tidak ada maka kita menggunakan ide (berpikir) atau simbol-simbol tertentu.

Mengingat adalah bukti bahwa seseorang telah belajar untuk mengingat banyak hal setiap harinya.

B. TUJUAN MASALAH
Sesuai tugas yang diberikan dosen mata kuliah psikologi umum semester satu, bahwa tujuan penulisan psikologi umum semester satu, bahwa tujuan penulisan ini untuk memenuhi tugas pelajaran psikologi umum serta untuk menambah nilai psikologi umum. Serta memberikan masukan kepada para mahasiswa/mahasiswi STAI Al-Hauld Ketapang tentang bagaimana caranya membedakan antara berpikir dan mengingat.


BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

A. PENGERTIAN BERPIKIR DAN MENGINGAT
a. Pengertian Berpikir
Berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide untuk membantu seseorang berpikir.
Macam-macam kegiatan berpikir dapat kita golongkan sebagai berikut:
1. Berpikir asosiatif, yaitu proses berpikir di mana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide-ide timbul secara bebas. Jenis-jenis berpikir asosiatif:
a. Asosiasi bebas: Suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makan dapat merangsang timbulnya ide tentang restoran dapur, nasi atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal lainnya.
b. Asosiasi terkontrol: Satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil, akan merangsang ide-ide lain tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, mertua sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih, dan sebagainya.
c. Melamun: yaitu menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis.
d. Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang terlupakan pada waktu terbangun, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.
e. Berpikir artistik: yaitu proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.
2. Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumya. Dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahannya persoalan. Dua macam berpikir terarah, yaitu:
a. Berpikir kritis yaitu membuat keputusan atau pemeliharaan terhadap suatu keadaan.
b. Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru dan sebagainya.
Dalam berpikir selalu dipergunakan simbol, yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal dalam alam pikiran. Misalnya perkataan buku adalah simbol uang mewakili benda yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid dan tertulis huruf-huruf. Di samping kata-kata, bentuk-bentuk simbol antara laibn angka-angka dan simbol matematika, simbol simbol yang dipergunakan dalam peraturan lalu lintas, not musik, mata uang, dan sebagainya.
Telah dikatakan di atas, bahwa berpikir terarah diperlukan dalam memecahkan persoalan-persoalan. Untuk mengarahkan jalan pikiran kepada pemecahan persoalan, maka terlebih dahulu diperlukan penyusunan strategi. Ada dua macam strategi umum dalam memecahkan persoalan:
1. Strategi menyeluruh: di sini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dipecahkan untuk keseluruhan itu.
2. Strategi detailistis: di sini persoalan di bagi-bagi dalam bagian-bagian dan dipecahkan bagian demi bagian.
Kesulitan dalam memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh:
1. Set: pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada persoalan-persoalan yang berikutnya (timbul: set). Padahal belum tentu persoalan berikut itu dapat dipecahkan dengan cara yang sama. Dalam hal ini akan timbul kesulitan-kesulitan terutama kalau orang yang bersangkutan tidak mau mengubah dirinya.
2. Sempitnya pandangan: sering dalam memecahkan persoalan, seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar. Meskipun ternyata kemungkinan yang satu ini tidak benar, orang tersebut akan mencobanya terus, karena ia tidak melihat jalan keluar yang lain. Tentu saja ia akan mengalami kegagalan. Kesulitan seperti ini disebabkan oleh sempitnya padangan orang tersebut. Sehingga tidak dapat melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar.

c. Pengertian Mengingat
Mengingat adalah tingkah laku manusia yang selalu diperoleh pengalaman masa lampau yang diingatnya.
Mengingat dapat didefinisikan sebagai pengetahuan sekarang tentang pengalaman masa lampau.
1. Mengingat dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Bentuk yang paling sederhana adalah mengingat sesuatu apabila sesuatu itu dikenakan pada indera. Bentuk ini disebut rekognisi. Misalnya, kita mengingat wajah kawan, komposisi musik, lukisan, dan sebagainya.
2. Bentuk mengingat yang lebih sukar adalah recall. Kita me-recall sesuatu apabila kita sadar bahwa kita telah mengalami sesuatu di masa yang lalu,tanpa mengenakan sesuatu itu pada indera kita. Misalnya, kita me-recall nama buku yang telah selesai kita baca minggu lalu.
3. Lebih sukar lagi ialah mengingat dengan cukup tepat untuk memproduksi bahan yang pernah dipelajari. Misalnya anda mengenal kembali (rekognisi) sebuah nyanyian dan ingat juga bahwa anda pernah mempelajari nyanyian itu (recall), tetapi apakah anda menyanyikannya kembali (reproduksi)?
4. Bentuk mengingat yang keempat ialah melakukan (performance) kebiasaan-kebiasaan yang sangat otomatis.

Apabila kita melakukan rekognisi, recall, reproduksi ataupun performance, pertama-tama kita harus memperoleh materinya. Memperoleh materi merupakan langkah pertama dalam keseluruhan proses yang bertitik puncak pada mengingat.
Suatu bentuk memperoleh materi tertentu dikaitkan dengan tiap bentuk mengingat. Untuk merekognisi dan me-recall, seseorang harus mempersepsi, sedangkan untuk memperoduksi, seseorang harus membentuk kebiasaan. Karena itu, seseorang perlu belajar.
Ada beberapa cara untuk mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah diketahui sebelumnya.
1. Rekoleksi, yaitu menimbulkan kembali ingatan suatu peristiwa, lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang terjadi di sekitar tempat peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Misalnya: seorang pria mengingat peristiwa pertama kali ia pergi dengan seorang gadis.
2. Pembauran ingatan, hampir sama dengan rekoleksi, tetapi ingatannya hanya timbul kalau ada hal yang merangsang ingatan itu. Misalnya dalam contoh di atas ingatan timbul setelah pria tersebut secara kebetulan berjumpa kembali dengan gadis yang bersangkut.
3. Memanggil kembali ingatan, yaitu mengingat kembali suatu hal, sama sekali terlepas dari hal-hal lain di masa lalu. Misalnya, mengingat sajak. Yang diingat di sini hanya sajaknya saja, tetapi pada suatu saat apa saja yang dipelajari untuk pertama kalinya, tidak diperhatikan lagi.
4. Rekognisi, yaitu mengingat kembali suatu hal setelah menjumpai sebagian dari hal tersebut. Misalnya ingat suatu lagu, setelah mendengar sebagian dari nada lagu tersebut.
5. Mempelajari kembali, terjadi kalau kita mempelajari hal sama untuk kedua kalinya, bhanyak hal-hal yang akan diingat kembali, sehingga tempo belajar dapat menjadi jauh lebih singkat

Salah satu perbedaan yang sangat substansial antara manusia dengan makhluq lainnya adalah kemampuan manusia untuk berpikir dengan piranti akal yang sudah dipersiapkan oleh Allah SWT. Meskipun akal diberikan pada makhluq tertentu, tapi ia hanya menjadi hiasan dan tidak difungsikan untuk berpikir. Oleh karena itulah manusia disebut dengan hayawaanu an-naatiq (hewan yang berbicara atau berpikir).
Dalam Islam, berpikir (dengan menggunakan berbagai kata yang sepadan dengannya) merupakan perintah yang banyak ditemukan. Dalam Al-Quran ada berbagai macam ayat yang kesemuanya merupakan ‘konklusi’ akan pentingnya berpikir dalam kehidupan ini, seperti; afala ta’qilun? La’allakum ta’qilun, la’allakum tatafakkarun, afala yatafakkarun?, liqaumin yatafakkarun. Bahkan Al-‘Aqlu dengan segenap derivasinya disebutkan sebanyak 49 kali, sedangkan Al-Fikru (berpikir) disebutkan sebanyak 18 kali.
Lantas, apa dan bagaimana sebenarnya berpikir itu? Apa tujuannya? Bagaimana berpikir yang baik dan kreatif? Ada berapakah macam-macam berpikir?.
Ada berbagai macam definisi yang bisa dijadikan sebagai rujukan untuk memahami definisi berpikir. Diantaranya;
 Philip L. Harriman mengungkapkan, bahwa berpikir adalah suatu aktivitas dalam menanggapi suatu situasi yang tidak objektif yang menyerang organ panca indera.
 Drever mengemukakan masalah berpikir sebagai berikut: “thinking is any course or train of ideas; in the narrower and stricter sense, a course of ideas initiated by a problem”. Artinya, bahwa berpikir bertitik tolak dari adanya persoalan atau problem yang dihadapi secara individu.
 Menurut Floyd L. Ruch, berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak.

Dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana, berpikir dapat didefinisikan sebagai proses yang intens untuk memecahkan masalah dengan meghubungkan satu hal dengan yang lainnya. Sebagaimana yang diungkapkan Anita Taylor, bahwa berpikir adalah proses penarikan kesimpulan (thinking is a inferring process).
Namun bagaimanapun berpikir adalah proses. Berpikir muncul ketika melihat realitas dan fenomena yang ada di sekitar. Selama berada dalam keadaan jaga, gagasan-gagasan akan tercampur dengan ingatan, gambaran, fantasi, persepsi, dan asosiasi-asosiasi. Dalam proses berpikir orang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain untuk mendapatkan pemecahan dari persoalan yang dihadapi. Pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam proses berpikir yang dapat dinyatakan dengan kata-kata, gambar, simbol-simbol atau bentuk-bentuk lainnya.
Sementara itu, berpikir sangat bergantung terhadap situasi dan kondisi, konsep dan lambang, serta bahasa yang dipergunakan. Karena warga masyarakat dari kebudayaan tertentu akan membentuk konsep-konsep dan menemukan kecocokan dengan situasi tertentu.
Ada beberapa langkah dalam berpikir, sebagaimana yang diungkapkan oleh Usman Najati, yaitu;
Pertama : kesadaran akan adanya problem
Kedua : perhimpunan data mengenai problem yang dihadapi
Ketiga : penyusunan dan penilaian terhadap hipotesis
Keempat : pengujian kebenaran hipotesis

B. Jenis-jenis Berpikir
Secara garis besar, ada dua macam berpikir; berpikir austistik dan berpikir realistik.
Berpikir autistik adalah proses berpikir yang biasa dikenal dengan melamun, seperti fantasi, menghayal, dan lain sebagainya. Berpikir autistik menjadikan seseorang lari dari kenyataannya dan memandang semua yang anda sebagai gambar-gambar fantastis. Pada kondisi seperti ini, berpikir autistik merupakan kegiatan mental yang melantur dan tidak mempunyai tujuan serta arah tertentu.
Sementara berpikir realistis adalah proses berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata dan diharapkan dengan itu akan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, disebut juga dengan nalar (reasoning). Floyd L. Ruch membagi berpikir realistik menjadi tiga bagian; Deduktif, Induktif, dan Evaluatif.
 Berpikir deduktif, merupakan proses berpikir yang dimulai dari hal-hal yang bersifat umum pada hal-hal yang bersifat khusus. Dalam logika, ini disebut dengan silogisme.
 Berpikir induktif, merupakan kebalikan dari berpikir deduktif yaitu proses pengambilan keputusan dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus menuju umum. Istilah ini dikenal dengan generalisasi. Ketepatan berpikir induktif bergantung pada memadainya kasus yang dijadikan dasar.
 Berpikir evaluatif, yaitu proses berpikir secara kritis untuk menilai baik atau buruk, tepat atau tidak, bahkan bermanfaat atau tidaknya sebuah gagasan. Karena proses ini merupakan proses berpikir yang bebas, maka seseorang bisa saja untuk menambah atau mengurangi gagasan.
Ada lagi yang menambahkan dengan,
 Berpikir analogi, adalah berpikir yang didasarkan pada pengenalan kesamaan. Biasanya, hal ini dengan menggunakan perbandingan atau kontras. Menurut Robert J. Sternberg, “kita berpikir secara analogis setiap kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalam pengalaman kita, dengan menghubungkannya pada suatu yang sama pada masa lalu kita”.
Ada lagi jenis-jenis berpikir yang dijabarkan oleh Sarlito;
 Berpikir asosiatif, adalah proses berpikir dimana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. Cara berpikir asosiatif dibagi menjadi dua macam;
1. Asosiasi bebas: satu ide aan menimbulkan ide mengenai hal lain, yaitu hal apa saja tanpa ada batasannya. Misalnya ide tentang makan, dapat menimbulkan ide tentang restoran atau dapur.
2. Asosiasi terkontrol, satu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya ide tentang “membeli mobil” akan memunculkan ide lain tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau mungkin modelnya.
3. Melamun, mengkhayal secara bebas sebebas bebasnya tanpa batas, bahkan mengenai hal-hal yang tidak realistis dan tidak logis.
4. Mimpi, ide-ide tentang beberapa hal yang timbul secara tidak sadar pada waktu tidur.
5. Berpikir artistik, adalah proses berpikir yang sangat subjektif, jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan sekitar.
 Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumnya dan diarahkan kepada sesuatu, biasanya diarahkan kepada pemecahan persoalan. Ada dua macam berpikir terarah, yaitu;
1. Berpikir kritis, adalah berpikir yang bertujuan untuk membuat keputusan atau pemelihan terhadap suatu keadaan.
2. Berpikir kreatif, adalah berpikir untuk menemukan hubungan baru antara berbagai hal.

C. Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan
Apa tujuan berpikir? Rahmat memberikan batasan bahwa berpikir adalah untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (making decision), memecahkan permasalahan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Walgito, bahwa tujuan dari berpikir adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Bahkan menurut Taylor, berpikir adalah untuk menarik kesimpulan.
Pendapat yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Usman Najati, bahwa fungsi berpikir adalah untuk memilih antara kebenaran dan kebatilan, antara kebajikan dan kejahatan, menyikapi realitas, memperoleh ilmu pengetahuan dan mengangkat manusia pada tingkat perkembangan dan kesempurnaan, sehingga apabila seseorang telah sampai pada kondisi demikian, akan melahirkan pemikiran yang besar nilainya dalam kehidupan.
1) Mengambil keputusan (making decision)
Salah satu fungsi berpikir adalah untuk menentukan keputusan. Penentuan keputusan merupakan sebuah keniscayaan karena dalam hidup ini akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membutuhkan akhir, yakni sebuah keputusan.
Keputusan yang diambil beraneka ragam, namun tanda-tanda secara umumnya ada beberapa point;
a. Keputusan merupakan hasi l berpikir; hasil usaha intelektual
b. Keputusan selalu melibatkan pilihan dan berbagai alternatif
c. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun dalam pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan.
Selain itu, dalam menghasilkan keputusan ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi;
a. Kognisi atau kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki.
b. Motif dan motivasi
c. Sikap dan emosi
2) Memecahkan persoalan atau masalah (problem solving)
Dalam hidup ini, seseorang terbiasa dengan berbagai kebiasaan, namun ada kalanya pada kondisi tertentu ada hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan cara yang selama ini menjadi kebiasaan. Maka, diperlukan adanya cara baru yang bisa mengatasi masalah itu. Dan itulah yang dinamakan berpikir.
Proses memecahkan masalah itu berlangsung melalui lima tahap;
a. Terjadi peristiwa ketika prilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu
b. Mencoba menggali memori untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu
c. Mencoba seluruh kemungkin pemecahan yang pernah diingat atau dapat dipikirkan
d. Mulai menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah; berpikir lebih mendalam.
e. Kemudian, timbullah dalam pikiran suatu pemecahan

Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses pemecahan masalah, yaitu;
a. Motivasi
Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian, dan motivasi yang terlalu tinggi membatasi fleksibelitas.
b. Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang dapat menyesatkan. Kerangka rujukan yang tidak cermat untuk menghadapi efektivitas pemecahan masalah. Seperti sikap defensif misalnya.
c. Kebiasaan
Kebiasaan disini berarti keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Beralih dari rigid mental set menuju flexible mental set. Artinya, sesuatu yang sudah dihasilkan akan bisa diganti dengan yang lain jika yang sudah ada tidak mampu menjawab masalah yang dihadapi.
d. Emosi
Bagaimanapun emosi memengaruhi pola berpikir dalam bentuk efisiensi dan kegunaan, karena seseorang tidak dapat betul-betul berpikir objektif.
e. Menurut Coleman
”takut mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang melumpuhkan tindakan; marah mendorong tindakan impulsif dan kurang dipikirkan; dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan pemecahan…”

Disamping faktor tersebut, ada beberapa faktor lain yang juga memengaruhi proses pemecahan masalah; yakni faktor situasional dan faktor biologis. Pada faktor situasional misalnya seperti sifat-sifat masalah; sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang, dan lain sebagainya. Faktor biologis, misalnya: terlalu lapar, setengah lapar, kurang tidur, dan berbagai kondisi lainnya.

D. Berpikir Kreatif
Salah satu fungsi dari berpikir adalah untuk menghasilkan gagasan yang baru (creativity). Maka berpikir secara kreatif berarti berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang lain dari yang sudah ada. Menurut James C. Colemean dan Coustance L. Hammen, berpikir kreatif adalah “thinking which procedure new methods, new concepts, new understandings, new inventions, new work of art.”
Orang-orang kreatif kebanyakan menggunakan cara berpikir secara analogis karena mereka mampu melihat berbagai hubungan yang tudak terlihat oleh orang lain. Orang yang biasa juga sering berpikir analogis, tetapi berpikir analogisyang dilakukan oleh orang kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang tidak rasional. Bahkan ada asumsi bahwa orang kreatif adalah orang gila, karena pada baik orang gila maupun orang kreatif mempunyai kesamaan; berpikir tidak konvensional. Tapi pikiran orang gila tidak memberikan pencerahan atau memecahkan masalah.
Guilford membedakan antara berpikir kreatif dan tidak kreatif dengan konsep berpikir konvergen dan divergen. Orang kreatif ditandai dengan pola berpikir divergen, yakni mencoba untuk menemukan berbagai perbedaan dan bisa dengan kreativitas yang biasanya dapat diukur dengan fluency, flexibilitas, dan originality.
Berpikir kreatif mempunyai beberapa mekanisme atau proses yang harus dilalui. Menurut para psikolog, ada lima tahap berpikir kreatif, diantaranya;
 Orientasi; masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diindentifikasi.
 Preparasi; berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
 Inkubasi; proses pemberhentian sementara ketika berbagai masalah berhadapan dengan jalan buntu. Tetapi mekipun begitu, proses berpikir berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar.
 Iluminasi; ketika masa inkubasi berakhir dengan ditemukannya solusi untuk memecahkan masalah.
 Verifikasi; tahap untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat.



Ciri-ciri orang kreatif menurut Coleman dan Hammen adalah sebagai berikut;
1. Kemampuan kognitif; termasuk disini adalah kecerdasan yang berada di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan baru dan berbeda.
2. Sikap yang terbuka; orang kreatif mempersiapkan diri menerima stimulasi internal dan eksternal; memiliki pikiran yang beragam dan luas.
3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif cenderung tidak mau didikte karena ia ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya; ia tidak ingin terlalu terikat pada konvensi-konvensi sosial. Karena alasan inilah mungkin yang menyebabkan orang kreatif sering dianggap nyentrik dan gila.

E. Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional. Menurut Coleman dan Hammen, faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif adalah :
1. Kemampuan Kognitif : Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
2. Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal maupun eksternal.
3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat oleh konvensi-kovensi. Hal ini menyebabkan orang kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila. Selain faktor lingkungan psikososial, beberapa peneliti menunjukan adanya faktor situasional lainnya. Maltzman menyatakan adanya faktor peneguhan dari lingkungan. Dutton menyebutkan tersedianya hal-hal istimewa bagi manusia kreatif, dan Silvano Arieti menekankan faktor isolasi dalam menumbuhkan kreativitas.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian kami yang telah diuraikan pada bab pembahasan masalah dapatlah disimpulkan hal-hal berikut:
1. Berpikir adalah seseorang yang berpikir bukan saja dengan otaknya tetapi berpengaruh juga dengan keseluruhan anggota tubuhnya.
2. Berpikir selalu berdampingan dalam mengingat suatu peristiwa/kejadian masa lampau, yang telah terjadi pada diri kita sendiri maupun orang lain.
3. Berpikir dan mengingat yang bermanfaat maka akan menghasilakn hal yang sangat baik (positif) apabila berpikir dan mengingat yang tidak bermanfaat maka akan menghasilkan hal yang buruk (negatif)
4. Berpikir dan mengingat juga mempunyai perbedaan

B. SARAN
1. Berpikir dan mengingat merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Yang dianggap sebagai kaum pelajar, karena mereka telah mengetahui apa itu berpikir dan mengingat.



DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, Ahmad. Drs. H. 1999. Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK. Bandung: Penerbit: Pustaka Setia.

0 comments:

Post a Comment

Warning !! Silahkan Copy paste asal tetap mencantumkan URL/Link Blog sebagai sumbernya. Powered by Blogger.