Wednesday, March 13, 2013

Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

I. PENDAHULUAN
Masyarakat jawa atau tepatnya suku bangsa jawa, secara antropologi budaya adalah orang yang didalam kehidupan kesehariannya menggunakan bahasa jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun temurun.
Masyarakat jawa sejak zaman prasejarah memiliki kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Mereka beranggapan bahwa dalam benda – benda atau tumbuhan tersebut memiliki kekuatan gaib. Kebudayaan yang ada di masyarakat jawa sebelum datangnya agama di tanah jawa yaitu bagaimana cara mereka menghormati para leluhur mereka dengan cara memberikan sesajen lewat upacara – upacara kedaerahan sesuai dengan kepercayaan mereka. Akan tetapi setelah islam masuk di tanah jawa, para Walisongo tidak menghilangkan budaya – budaya asli jawa, melainkan para Walisongo memasukkan ajaran – ajaran islam.
Sebuah ritual dapat dilakukan pada kesempatan tertentu, atau atas kebijaksanaan individu atau komunitas. Ini mungkin dilakukan oleh individu, kelompok, atau oleh seluruh masyarakat, di tempat yang sewenang-wenang, atau di tempat khusus disediakan untuk itu, baik di publik, secara pribadi, atau sebelum orang-orang tertentu. Sebuah ritual dapat dibatasi pada subset masyarakat, dan dapat mengaktifkan atau garis bawah bagian antara negara agama atau sosial.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Proses akulturasi budaya jawa dan Islam
B. Hubungan antara budaya jawa dan Islam dalam aspek kepercayaan
C. Hubungan antara budaya jawa dan Islam dalam aspek ritual.


III. PEMBAHASAN
A. Proses akulturasi budaya jawa dan Islam
Dalam proses akulturasi ada dua pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat diserap menjadi bagian dari kebudayaan jawa yaitu :

1. Islamisasi Kultur
Pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah Islam, nama-nama Islam, pengambilan, peran tokoh Islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum , norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2. Jawanisasi Islam
Sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai Islam melalui cara penyusupan terhadap budaya-budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah dan nama jawa tetap dipakai, tetapi nilai yang dikandungnya adalah nilai Islam sehingga islam menjadi menjawa.
Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang jawa islam cenderung mengarah kepada polarisasi islam kejawaan atau jawa yang keislaman sehingga timbul istilah jawa atau islam kejawen.[1]

B. Hubungan antara budaya jawa dan Islam dalam aspek kepercayaan
Setiap agama memiliki aspek fundamental yaitu aspek kepercayaan dan memiliki keyakinan, terutama kepercayaan terhadap suatu yang sacral, yang suci atau yang gaib. Dalam agama islam aspek fundamental terumuskan dalam aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman yang harus dipercaya oleh orang islam. Kemudian dalam budaya jawa pra islam yang bersumberkan ajaran hindhu terdapat kepercayan adanya pulau dewata, terhadap kitab-kitab suci. Orrang-prang (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hokum karma dan hidup hokum abadi (muksa). Dalam agama budha terdapat kepercayaan mengenai empat kebenaran abadi (kesunyatan), yakni dukha (penderitaan), samudaya (sebuah pendritaan), nirodha (pemadam keinginan) dan morga (jalan kelepasan). Adapun pada agama primitif sebaga orang jawa sebelum kedatangan hindhu atau budha terdapat kepercayaan animisme dan dinamisme.
Kepercayaan dari agama hindhu, budha maupun animisme dan dinamisme ini dalam proses pengembangan islam beriteraksi dalam kepercayaan dalam islam, yang meliputi aspek ketuhanan, prinsip ajaran islam telah tercampur dalam berbagai unsure kepercayaan hindhu, budha. Contohnya seperti sebutan Allah swt., orang kejawen biasa menyebutnya Gusti Allah. Berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme, kepercayaan mengesakan Allah itu sering menjadi tidak murni oleh karena tercampur dengan penuhanan terhadap benda-benda yang dianggap keramat, baik benda mati maupun benda hidup. Arti keramat disini bukan berarti mulia terhormat, tetapi memiliki memiliki gaya magis, sesuatu yang sacral bersifat ilahiyat. Dalam tradisi jawa terdapat berbagai jenis barang yang digunakan. Ada yang disebut azimat pusaka, dalam bentuk tombak, keris, ikat kepala, cincin, batu, akik dll.
Mistik kejawen sesungguhnya merupakan manisfestasi agama jawa. Agama jawa adalah akumulasi praktik religi masyarakat jawa. Dalam pandangan jawa Geertz, agama jawa memiliki tiga variasi yaitu jawa abangan, santri, dan priyayi.
Dalam praktek religi tersebut sebgian orang meyakini terhadap pengaruh sinkretik dengan agama lain, sedikitnya agama hindhu, budha dan islam. Senbaliknya ada yang meyakini secara puritan bahwa mistik kejawen adalah milik masyarakat jawa yang ada sebelum pengaruh lain. Masing-masing asumsi memiliki alasan yang masuk akal. Esensi agama jawa adalah pemujaan pada nenek moyang atau leluhur. Pemujaan tersebut diwujudkan melalui sikap mistik dan selametan. Meskipun secara lahiriyah mereka memuja para roh, namun esensinya tetap terpusat pada Tuhan. Jadi, agama jawa yang dilandasi sikap dan perilaku mistik tetap tersentral kepada Tuhan.[2]
Wirid Hidayat Jati mengajarkan paham antara manusia dengan Tuhan. Paham ini mengajarkan bahwa manusia berasal daru Tuhan oleh karena itu, harus bersatu kembali dengan Tuhan. Kesatuan kembali antara manusia dengan Tuhan didunia bias dicapai dengan penghayatan mistik, seperti pada umumnya seperti ajaran mistik. Akan tetapi kesatuan yang sempurna antara manusia dengan Tuhan menurut Wirid Hidayat Jati sesudah datangnya ajal atau maut istilah kawulo Gusti yang terdapat dalam Wirid Hiayat Jati kaitannya dengan istilah ‘abdun dan rabbun’ dalam Islam.[3]
Dalam kepercayaan terhadap makhluk jahat tidak saja pada agama Islam, tetapi ada juga dalam agama hindhu maupun kepercayaan primitif dan tampaknya telah saling mengisi. Namun setan, jin (islam) dan raksa (hindhu) telah dikategorikan sebagai jenis makhluk atau roh jahat penggoda manusia dan dapat menjelma seperti manusia atau hewan. Terdapat pula sejumlah makhluk halus, serta setan-setan berkelamin pria dan bermuka buruk seperti setan dharat, setan mbisu, setan mbelis, memedi, dll. Adapun setan yang sejenis kelamin wanita seperti wewe, kuntilanak, sundel bolong, setan yang menyerupai anak kecil atau kerdil adalah tuyul.
Menurut keyakinan orang islam, orang yang sudah meninggal dunia ruhn ya tetap hidup dan tinggal sementara dialam kubur atau alam barzah, sebagai alam antara sebelum memasuki akhirat tanpa kecuali, apakah orang tua ataupun anak-anak. Menurut orang jawa, arwah-arwah orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkeliaran disekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap dimakam. Dari sinilah kemudian timbul upacara bersih desa, termasuk membersihkan makam-makam disertai dengan kenduren maupun sesaji, dengan maksud agar sang dhanyang akan selalu memberikan perlindungan disisi lain atas dasar kepercayaan islam bahwa orang yang meninggal dunia perlu dikirimi doa.

C. Hubungan antara budaya jawa dan Islam dalam aspek ritual
Ritual atau Ritualistik adalah kegiatan yanng meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang terdapat dalam rukun islam yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Agama islam mengajarkan kepada pemeluknya supaya melakukan kegiatan – kegiatan ritualistik diatas. Dalam ritual sholat dan puasa, selain terdapat sholat wajib lima waktu dan puasa wajib dibulan Ramadhan, terdapat pula sholat dan puasa sunnah. Yang intisari dari sholat adalah doa yang ditunjukkan kepada Allah SWT, sedangkan puasa adalah suatu bentuk pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani.
Dalam doa dan puasa mempunyai pengaruh yang sangat luas, mewarnai berbagai bentuk upacara tradisional orang jawa. Bagi orang jawa, hidup ini penuh dengan upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia sejak dari keadaannya dalam perut ibu, lahir, anak – anak, remaja, dewasa, sampai kematiaanya.
Dalam kepercayaan lama upacara dilakukan dengan mengadakan sesaji atau semacam korban yang disajikan kepada daya – daya kekuatan gaib tertentu yang bertujuan supaya kehidupannya senantiasa dalam keadaan selamat. Setelah islam datang, secara luwes islam memberikan warna baru dalam kepercayaan itu dengan sebutan kenduren atau selamaran. Dalam upacara selamatan ini yang pokok adalah yang dipimpin oleh kiai. Dalam selamatan ini terdapat seperangkat makanan yang diidangkan pada peserta selamatan, serta makanan yang dibawa kerumah seperti berkat.
Berkaitan dengan lingkaran hidup orang jawa, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa jenis upacara yang dilakukan orang jawa diantaranya :
1. Upacara tingkeban atau mitoni
Upacara ini dilakukan pada saat janin berusia 7 bulan dalam perut ibu. Dalam tradisi santri, pada upacara tingkeban ini sperti dilakukan didaerah Bagelen dibacakan nyanyian perjanjen dengan alat musik tamburin kecil.

2. Upacara kelahiran
Upacara ini dilakukan pada saaat anak diberi nama dan pemotongan rambut pada bayi berumur 7 hari atau sepasar. Karena itu selamatan ini disebut juga slametan nyepasari.

3. Upacara Sunatan
Upacara ini dilakukan pada saat anak laki – laki dikhitan. Namun pada usia mana anak itu dikhitan, pada berbagai masyarakat berbeda.

4. Upacara perkawinan
Upacara ini dilakukan pada saat muda – mudi akan memasuki jenjang berumah tangga. Selamatan yang dilakukan berkaitan dengan upacara perkawinan sering dilaksanakan dalam beberapa tahap, yakni pada tahap sebelum akad nikah, pada tahap akad nikah dan sesudah akad nikah.

5. Upacara kematian
Upacara ini dilakukan pada saat persiapan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, mensholati dan pada akhirnya menguburkan.[4]

IV. KESIMPULAN
Dalam kehidupan keberagaman orang jawa suatu upaya mengakomodasikan antara nilai-nilai islam dengan kebudayaan pra Islam. Upaya itu telah dilakukan sejak Islam mulai disebarkan oleh para mubaligh yang tergabung dalam walisongo dan dilanjutkan oleh para pujangga kraton serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari orang jawa islam. Upaya itu masih terus berproses hingga dewasa ini. Sebagian dari nilai-nilai islam itu sudah menjadi bagian dari udaya jawa.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Namun kami juga sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  • Sofwan, ridin,dkk. Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa. Yogyakarta : Gama Media. 2004.
  • Amin, darori. Islam dan Kebudayaan Jawa. Semarang : Gama Media. 2000.
  • Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan. 2002. Herusatoto, budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta : Hanindita Graha Widya. 2003.
  • http//:wikipedia.com


[1] Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa (Yogyakarta:Gama Media, 2000), Hlm. 119.
[2] Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen, (Yogyakarta:Narasi, 2006), Hlm. 75.
[3] Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Rangga Warsita, (Jakarta:UI-Press, 1998), Hlm. 278.
[4] Darori Amin, Op. Cit., hlm, 132-134.

By : Fika Triwulandari

0 comments:

Post a Comment

Warning !! Silahkan Copy paste asal tetap mencantumkan URL/Link Blog sebagai sumbernya. Powered by Blogger.