Thursday, May 17, 2012

Usia Manula

BAB I
PENDAHULUAN

Di sepanjang perjalanan kehidupan manusia tentu akan mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan usia. Sejak usia dini, anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia (manula). Bagi manusia yang dikaruniai usia panjang sudah pasti mengalami masa lanjut usia (lansia).

Dari sekian fase tersebut, fase lansia adalah fase usia yang perlu mendapat perhatian lebih dari anak-anaknya, sanak famili bahkan orang-orang yang masih berusia muda. Sebab mereka (lansia) yang berusia panjang tersebut sedang mengalami kemunduran secara fisik dan psikis. Ratna Suhartini (tanpa tahun) menjelaskan bahwa ketergantungan lanjut usia disebabkan kondisi orang lanjut usia banyak mengalami kemunduran fisik maupun psikis, artinya mereka mengalami perkembangan dalam bentuk perubahan-perubahan yang mengarah pada perubahan yang negatif.

Dalam hal ini, untuk membantu lansia agar keluar dari permasalahan tersebut dan dapat menikmati hari tuanya dengan tenang diperlukan pelayanan intensif. Dengan kata lain pendekatan konseling saja belum mencukupi, diperlukan bantuan psikiatri atau dokter bagi mereka yang menderita penyakit secara psikis atau medis. Meskipun demikian, melalui konseling sedikit banyak dapat membantu mereka dalam mencari solusi atas permasalahan yang dialami.

Dari uraian singkat di atas dan berdasarkan tema yang telah ditetapkan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Konseling, yakni Konseling bagi klien usia manula, penulis tertarik mengangkat judul Pendekatan Psikologis dalam Konseling terhadap Usia Manula.

Adapun fokus pembahasan makalah meliputi sub topik berikut :

A. Mengenal Usia Manula;
B. Pendekatan Psikologis bagi Usia Manula.

Semoga sajian makalah ini dapat membantu penulis dan para pembaca untuk mengetahui metode konseling yang digunakan bagi mereka yang telah berusia lanjut. Selain itu dapat menambah keterampilan berinteraksi dengan para manula. Sehingga, mampu pula memahami prilaku, kebutuhan dan keinginan mereka.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Mengenal Usia Manul

Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat berupaya untuk menghambat kejadiannya.

Istilah untuk manusia yang usianya sudah lanjut belum ada yang baku. Orang sering menyebutnya berbeda-beda. Ada yang menyebutnya manusia usia lanjut (Manula), manusia lanjut usia (Lansia), ada yang menyebut golongan lanjut umur (Glamur), usia lanjut (Usila), bahkan kalau di Inggris orang biasa menyebutnya dengan istilah warna negara senior.

Di balik akronim "lansia" (lanjut usia) dan "manula" (manusia usia lanjut) misalnya, bisa terkandung diskriminasi berdasarkan usia, bisa pula terkandung arti yang melemahkan karena berkonotasi "tidak berguna lagi" atau "tidak mampu", kalau dikaitkan dengan produktivitas manusia, "harus dikasihani" kalau dikaitkan dengan kondisi fisik dan lain-lain. (http://www.kompas.com)

Sebenarnya, pada umur berapa orang baru bisa disebut berusia lanjut? Jawabannya, belum ada ketentuan yang pasti. Beberapa ahli biasanya membedakannya menurut 2 macam umur, yaitu umur kronologis dan umur biologis.

Umur kronologis adalah umur yang dicapai seseorang dalam kehidupannya dihitung dengan tahun almanak atau kalender. Di Indonesia batasan tadi belum ada, tetapi dengan usia pensiun 55 tahun, berarti usia di atas 55 tahun barangkali termasuk dalam golongan usia lanjut. Namun, ada orang lain yang menyebutnya 60 tahun ke atas atau 65 tahun ke atas yang termasuk kelompok usia lanjut.

Umur biologis adalah usia yang sebenarnya. Pematangan jaringan yang biasanya dipakai sebagai indeks umur biologis. Hal ini dapat menerangkan, mengapa orang-orang berumur kronologis sama mempunyai penampilan fisik dan mental berbeda. Untuk tampak awet muda, proses biologis ini yang dicegah.

Kemunduran Organ Tubuh

Jika proses menua mulai berlangsung, di dalam tubuh juga mulai terjadi perubahan-perubahan struktural yang merupakan proses degeneratif. Misalnya sel-sel mengecil atau komposisi sel pembentukan jaringan ikat baru menggantikan sel-sel yang menghilang dengan akibat timbulnya kemunduran fungsi organ-organ tubuh.

Beberapa kemunduran organ tubuh seperti yang disebutkan oleh Kartari (1990), di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Kulit : Kulit berubah menjadi tipis, kering, keriput dan tidak elastis lagi. Dengan demikian fungsi kulit sebagai penyekat suhu lingkungan dan perisai terhadap masuknya kuman terganggu.
  • Rambut : Rontok, warna menjadi putih, kering dan tidak mengkilat. Ini berkaitan dengan perubahan degeneratif kulit.
  • Otot : Jumlah sel otot berkurang, ukurannya antrofi, sementara jumlah jaringan ikat bertambah, volume otot secara keseluruhan menyusut, fungsinya menurun dan kekuatannya berkurang.
  • Jantung dan pembuluh darah : Pada manusia usia lanjut kekuatan mesin pompa jantung berkurang. Bebagai pembuluh darah penting khusus yang di jantung dan otak mengalami kekakuan. Lapisan intim menjadi kasar akibat merokok, hipertensi, diabetes mellitus, kadar kolesterol tinggi dan lain-lain yang memudahkan timbulnya penggumpalan darah dan trombosis.
  • Tulang : Pada proses menua kadar kapur (kalsium) dalam tulang menurun, akibatnya tulang menjadi kropos (osteoporosis) dan mudah patah.
  • Seks : Produksi hormon seks pada pria dan wanita menurun dengan bertambahnya umur.

Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari. Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik, yaitu rentannya terhadap berbagai penyakit , karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar. Menurut data SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) masih tinggi. SKRT tahun 1980 menunjukkan angka kesakitan penduduk usia 55 tahun ke atas sebesar 25,7 persen. Berdasarkan 3 SKRT tahun 1986 angka kesakitan usia 55 tahun 15,1%, dan menurut SKRT 1995 angka kesakitan usia 45-59 sebesar 11,6 persen ( Wirakartakusumah : 2000) Dalam penelitian Profil Penduduk Usia Lanjut Di Kodya Ujung Pandang ditemukan bahwa lanjut usia menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan antara lain diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, rematik dan asma sehingga menyebabkan aktifitas bekerja terganggu (Ilyas : 1997). Demikian juga temuan studi yang dilakukan Lembaga Demografi Universitas Indonesia di Kabupaten Bogor tahun 1998, sekitar 74 persen lansia dinyatakan mengidap penyakit kronis. Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang banyak diderita lanjut usia, sehingga mereka tidak dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (Wirakartakusumah : 2000).

Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indra menyebabkan lanjut usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi. Datangnya menopause bagi perempuan akan menimbulkan perasaan tidak berguna , karena mereka tidak dapat bereproduksi lagi. Inti dari kewanitaan adalah keberhasilan seorang wanita untuk mengisi peranannya sebagai seorang ibu dan seorang istri (Saparinah, 1991). Dengan asumsi tersebut menopause merupakan kejadian yang paling penting dan yang paling banyak menimbulkan permasalahan bagi wanita. Pada umumnya masalah kesepian adalah masalah psikologis yang paling banyak dialami lanjut usia. Beberapa penyebab kesepian antara lain

  1. longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan bersekolah tinggi sehingga tidak memerlukan penanganan yang terlampau rumit
  2. Berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah
  3. kurangnya aktifitas sehingga waktu luang bertambah banyak
  4. Meninggalnya pasangan hidup
  5. Anak-anak yang meninggalkan rumah karena menempuh pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak yang meninggalkan rumah untuk bekerja.
  6. Anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri.

Beberapa masalah tersebut akan menimbulkan rasa kesepian lebih cepat bagi orang lanjut usia. Dari segi inilah lanjut usia mengalami masalah psikologis, yang banyak mempengaruhi kesehatan psikis, sehingga menyebabkan orang lanjut usia kurang mandiri. Kondisi kesehatan mental lanjut usia di Kecamatan Badung Bali menunjukkan bahwa pada umumnya lanjut usia di daerah tersebut tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, mereka mengeluh mengalami gangguan tidur.

Mereka merasa tidak senang dan bahagia dalam masa tuanya, karena berbagai kebutuhan hidup dasar tidak terpenuhi, dan merasa sangat sedih, sangat kawatir terhadap keadaan lingkungannya. Dalam sosialisasi dalam urusan di masyarakat kurang aktif (Suryani, 1999). Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa beberapa kondisi kesehatan mental lanjut usia mempengaruhi berbagai kondisi lanjut usia yang lain seperti kondisi ekonomi, yang menyebabkan orang lanjut usia tidak dapat bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kondisi social yang menyebabkan kurangnya hubungan sosial antara lanjut usia dengan masyarakat. Masalah ekonomi yang dialami orang lanjut usia adalah tentang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti kebutuhan sandang, pangan, perumahan, kesehatan, rekreasi dan sosial. Dengan kondisi fisik dan psikis yang menurun menyebabkan mereka kurang mampu menghasilkan pekerjaan yang produktif. Di sisi lain mereka dituntut untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat dari sebelumnya, seperti kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perawatan bagi yang menderita penyakit ketuaan dan kebutuhan rekreasi.

Sedangkan penghasilan mereka antara lain dari pensiun, tabungan, dan bantuan keluarga. Bagi lanjut usia yang memiliki asset dan tabungan cukup, tidak terlalu banyak masalah. Tetapi bagi lanjut usia yang tidak memiliki jaminan hari tua dan tidak memiliki aset dan tabungan yang cukup maka pilihan untuk memperoleh pendapatan jadi semakin terbatas. Jika tidak bekerja berarti bantuan yang diperoleh mereka dapatkan dari bantuan keluarga, kerabat atau orang lain.

Dengan demikian maka status ekonomi orang lanjut usia pada umumnya berada dalam lingkungan kemiskinan. Keadaan tersebut akan mengakibatkan orang lanjut usia tidak mandiri, secara finansial tergantung kepada keluarga atau masyarakat bahkan pemerintah Banyak lanjut usia dengan sia-sia mencari suatu bentuk pekerjaan . Upaya untuk mencari pekerjaan setelah pensiun mengalami kesulitan, karena berbagai lowongan pekerjaan di berbagai media masa selalu menghendaki tenaga kerja dengan pendidikan tinggi, penampilan menarik, energik, loyalitas tinggi, dan usia maksimal yang dikehendaki pada umumnya 25 – 30 tahun. Jika hal ini dikaitkan dengan pencari kerja yang sudah lanjut usia yang pada umumnya berpendidikan rendah, menurut Wirakartakusumah (2000) sekitar 52,5 persen dari 13,3 juta lansia tidak pernah sekolah, tidak tamat SD sekitar 27,8 persen atau 3,7 juta orang, sehingga dengan demikian 80 persen lansia berpendidikan SD ke bawah dan tidak memenuhi beberapa persyaratan yang dikehendaki perusahaan/industri maka membuat tenaga kerja lanjut usia semakin tersingkir dari dunia kerja yang diharapkan. Kurangnya pasaran kerja, membuat mereka tidak mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih muda dan berpendidikan. Disamping itu menurunnya kondisi fisik yang tidak mungkin dapat menyesuaikan dengan pekerjaan-pekerjaan yang memegang prinsip efektifitas dan kualitas serta kuantitas yang tinggi ikut berpengaruh.

B. Pendekatan Psikologis Bagi Usia Manula

Zainuddin Sri Kuntjoro, dalam tulisannya yang berjudul Prinsip-Prinsip Dalam Pelayanan Psikogeriatri di situs psikologi mengatakan:

Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif.

Dengan kata lain, untuk menangani permasalahan pada usia manula tidaklah cukup hanya dengan satu pendekatan. Berhubung kajian ini memfokuskan pada pendekatan psikologis dalam hal ini pendekatan lain seperti biologis, spiritual dan sosial tidak penulis jabarkan di sini.

Menurut Zainuddin, Pendekatan Psikologis, yaitu pendekatan pelayanan kesehatan lansia yang menekankan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi-fungsi kognitif, afektif, konatif dan kepribadian lansia secara optimal.

1. Fungsi Kognitif

a. Kemampuan Belajar (Learning)

Lanjut usia yang yang sehat dalam arti tidak mengalami demensia atau gangguan Alzemeir, masih memiliki kemampuan belajar yang baik. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup (long study) bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk belajar sejak dilahirkan sempai akhir hayat. Oleh karena sudak seyogyanya jika mereka tetap diberikan kesempatan untuk mempelajari sesuatu hal yang baru. Implikasi praktis dalam pelayanan kesehatan jiwa lanjut usia baik yang bersifat promotif-preventif, kuratif dan rehabilitatif adalah untuk memberikan kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar yang sudah disuaikan dengan kondisi masing-masing lanjut usia yang dilayani.

2. Kemampuan Pemahaman (Comprehension)

Pada lanjut usia, kemampuan pemahaman atau menangkap pengertian dipengaruhi oleh fungsi pendengarannya. Dalam pelayanan terhadap lanjut usia agar tidak timbul salah paham sebaiknya dilakukan kontak mata; saling memandang. Dengan kontak mata, mereka akan dapat membaca bibir lawan bicaranya, sehingga penurunan pendengarannya dapat diatasi dan dapat lebih mudah memahami maksud orang lain. Sikap yang hangat dalam berkomunikasi akan menimbulkan rasa aman dan diterima. Mereka akan lebih tenang, lebih senang, merasa aman, merasa diterima, merasa dihormati dan sebagainya.

3. Kinerja (Performance)

Pada lanjut usia yang sangat tua memang akan terlihat penurunan kinerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penurunan itu bersifat wajar sesuai perubahan organ-organ biologis ataupun perubahan yang sifatnya patologis. Dalam pelayanan kesehatan jiwa lanjut usia, mereka perlu diberikan latihan-latihan ketrampilan untuk tetap mempertahankan kinerja.

4. Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pada lanjut usia masalah-masalah yang dihadapi tentu semakin banyak. Banyak hal yang dahulunya dengan mudah dapat dipecahkan menjadi terhambat karena terjadi penurunan fungsi indra pada lanjut usia. Hambatan yang lain dapat berasal dari penurunan daya ingat, pemahaman dan lain-lain, yang berakibat bahwa pemecahan masalah menjadi lebih lama. Dalam menyikapi hal ini maka dalam pendekatan pelayanan kesehatan jiwa lanjut usia perlu diperhatikan ratio petugas kesehatan dan pasien lanjut usia.

5. Daya Ingat (Memory)

Daya ingat adalah kemampuan psikis untuk menerima, mencamkan, menyimpan dan menghadirkan kembali rangsangan/peristiwa yang pernah dialami seseorang. Daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang banyak berperan dalam proses berfikir, memecahkan masalah, maupun kecerdasan (intelegensia), bahkan hampir semua tingkah laku manusia itu dipengaruhi olah daya ingat. Pada lanjut usia, daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang seringkali paling awal mengalami penurunan. Pada lanjut usia yang menderita demensia, gangguan yang terjadi adalah mereka tidak dapat mengingat peristiwa atau kejadian yang baru dialami, akan tetapi hal-hal yang telah lama terjadi, masih diingat. Keadaan ini sering menimbulkan salah paham dalam keluarga. Oleh sebab itu dalam proses pelayanan terhadap lanjut usia, sangat perlu dibuatkan tanda-tanda atau rambu-rambu baik berupa tulisan, atau gambar untuk membantu daya ingat mereka. Misalnya dengan tulisan SENIN, TANGGAL 10 DESEMBER 2007 dan sebagainya, ditempatkan pada tempat yang strategis yang mudah dibaca / dilihat.

6. Motivasi

Motivasi adalah fenomena kejiwaan yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku demi mencapai sesuatu yang diinginkan atau yang dituntut oleh lingkungannya. Motivasi dapat bersumber dari fungsi kognitif dan fungsi afektif. Motif Kognitif lebih menekankan pada kebutuhan manusia akan informasi dan untuk mencapai tujuan tertentu. Motif ini mendorong manusia untuk belajar dan ingin mengetahui. Motif Afektif lebih menekankan aspek perasaan dan kebutuhan individu untuk mencapai tingkat emosional tertentu. Motif ini akan mendorong manusia untuk mencari dan mencapai kesenangan dan kepuasan baik fisik, psikis dan sosial dalam kehidupannya dan individu akan menghayatinya secara subyektif. Pada lanjut usia, motivasi baik kognitif maupun afektif untuk mencapai/memperoleh sesuatu cukup besar, namun motivasi tersebut seringkali kurang memperoleh dukungan kekuatan fisik maupun psikologis, sehingga hal-hal diinginkan banyak berhenti di tengah jalan.

7. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan termasuk dalam proses pemecahan masalah. Pengambilan keputusan pada umumnya berdasarkan data yang terkumpul, kemudian dianalisa, dipertimbangkan dan dipilih alternatif yang dinilai positif (menguntungkan ) kemudian baru diambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan pada lanjut usia sering lambat atau seolah-olah terjadi penundaan, oleh sebab itu, mereka membutuhkan petugas atau pendamping yang dengan sabar sering mengingatkan mereka. Keputusan yang diambil tanpa dibicarakan dengan mereka, akan menimbulkan kekecewaan dan mungkin dapat memperburuk kondisinya. Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan, kaum tua tetap dalam posisi yang dihormat

8. Kebijaksanaan

Bijaksana (wisdom) adalah aspek kepribadian (personality), merupakan kombinasi dari aspek kognitif, afektif dan konatif. Kebijaksanaan menggambarkan sifat dan sikap individu yang mampu mempertimbangkan antara baik dan buruk serta untung ruginya sehingga dapat bertindak secara adil atau bijaksana. Kebijaksanaan sangat tergantung dari tingkat kematangan kepribadian seseorang. Atas dasar hal tersebut, dalam melayani lanjut usia termasuk psikogeriatik mereka harus memperoleh pelayanan yang penuh bijaksana sehingga kebijaksanaan yang ada pada masing-masing individu yang dilayani tetap terpelihara.

2. Fungsi Afektif

Fungsi Afektif (emosi/perasaan) adalah fenomena kejiwaan yang dihayati secara subyektif sebagai sesuatu yang menimbulkan kesenangan atau kesedihan. Afeksi (emosi/perasaan) pada dasarnya dibedakan atas :

  •  Biologis, meliputi perasaan indera (panas, dingin, pahit, asin dsb), perasaan vital (lapar, haus, kenyang dsb) dan perasaan naluriah (kasih sayang, cinta, takut dsb)
  •  Psikologis, meliputi : perasaan diri, perasaan sosial, perasaan etis, estetis, perasaan intelek serta perasaan religius.

Pada usia lanjut umumnya afeksi atau perasaan tetap berfungsi dengan baik dan jika ada yang mengalami penurunan seringkali adalah afeksi biologis, sebagai akibat dari penurunan fungsi organ tubuh. Sedangkan afeksi psikologis relatif tetap berperan dengan baik, bahkan makin mantap, kecuali bagi mereka yang mempunyai masalah fisik ataupun mental. Usia lanjut kadang-kadang menunjukkan hidup emosi yang kurang stabil, hal ini dapat ditangkap sebagai tanda bahwa terdapat masalah atau ada hal-hal yang sifatnya patologis yang tidak mudah diamati, karena itu perlu dikonsultasikan kepada para ahli.

Penurunan fungsi afektif nampak jelas pada usia lanjut yang sangat tua (diatas 90 tahun), penurunan tersebut sering diikuti oleh tingkah laku regresi, misalnya mengumpulkan segala macam barang kedalam tempat tidur. Pada umur tersebut, sering terjadi fungsi mentalnya semakin buruk dan sering tidak tertolong dengan upaya terapi. Ada juga yang mengatakan lima tahun terakhir pada usia lanjut yang sangat tua tersebut sering terjadi tragedi penurunan segala fungsi mental yang semakin memburuk dan sering tidak tertolong dalam upaya terapi.

Sehubungan dengan fungsi afektif dalam pelayanan kesehatan jiwa usia lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jika petugas menjumpai lansia dengan emosi yang labil atau menurun fungsi mental lainnya, maka perlu diwaspadai kemungkinan adanya masalah mental emosional atau hal-hal yang patologis. Untuk itu perlu pemeriksaan para ahli.
  2.  Jika petugas mendapatkan lansia yang sangat tua (very old) disertai penurunan fungsi mental yang drastis, maka perlu dilakukan upaya-upaya terapi dan pelayanan yang sesuai dengan kondisi lansia tersebut.

3. Fungsi Konatif (Psikomotor)

Konatif atau psikomotor adalah fungsi psikis yang melaksanakan tindakan dari apa yang telah diolah melalui proses berpikir dan perasaan ataupun kombinasinya. Konatif mengandung aspek psikis yang melakukan dorongan kehendak baik yang positif maupun yang negatif, disadari maupun tidak disadari.

Pada usia lanjut umumnya dorongan dan kemauan masih kuat, akan tetapi kadang-kadang realisasinya tidak dapat dilaksanakan, karena membutuhkan organ atau fungsi tubuh yang siap/ mampu melaksanakannya. Misalnya usia lanjut yang ingin sekali untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya (activity daily living) tanpa bantuan orang lain. Ia ingin dapat makan dengan cepat, keluar masuk kamar mandi sendiri. Namun keinginan tersebut yang tanpa mengingat kondisi dirinya yang sudah menurun justru akan sering menimbulkan kecelakaan pada usia lanjut.

Atas dasar hal tersebut implikasi yang perlu diperhatikan dalam pelayanan terhadap usia lanjut termasuk psikogeriatiknya yang berhubungan dengan fungsi konatif, usia lanjut perlu dibantu untuk memilih hal yang penting agar mereka tidak ragu dalam berbagai keinginannya. Perlu pula diperhatikan keadaan yang dapat menimbulkan resiko bagi usia lanjut.

4. Kepribadian

Kepribadian adalah semua corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian itu bersifat dinamis artinya selama individu masih tetap belajar dan bertambah pengetahuan, pengalaman serta keterampilannya, ia akan semakin matang dan mantap. Pada usia lanjut yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi baik, kecuali mereka dengan masalah kesehatan jiwa atau tergolong patologik.

Dalam pelayanan usia lanjut termasuk psikogeriatik, hendaknya memperhatikan fungsi-fungsi psikologik diatas agar pelayanan yang dilakukan dapat membantu mempertahankan dan memperbaiki kondisi fisik, psikologik dan sosial usia lanjut.

BEBERAPA SARAN

Demi menjaga kesejahteraan para lansia dalam menikmati hari tua mereka, maka dalam pelayanan terhadap mereka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1.  Kegiatan yang sifatnya kegiatan kognitif sebaiknya tetap diadakan sepanjang yang bersangkutan (lansia) masih bersedia
  2. Untuk membantu daya ingat para lansia, sebaiknya di tempat-tempat yang strategis dalam pelayanan ditulis hari, tanggal dan sebagainya dengan huruf ukuran besar dan jelas.
  3. Ditempat-tempat tertentu misalnya ruang tamu, kamar mandi, ruang makan, lemari pakaian dan sebagainya sebaiknya diberi tulisan atau tanda khusus yang mudah dikenali oleh para lansia.
  4. Bentuk tempat tidur, kursi, pintu, jendela dan sebagainya yang sering kali mereka gunakan/lewati/pegang seyogyanya dibuat sederhana, kuat dan mudah dipergunakan. Bila perlu diberi alat bantu yang memudahkan untuk berjalan, bangun, duduk dan sebagainya. Hal tersebut sangat penting untuk menambah rasa aman mereka dan memperkecil bahaya.
  5. Bentuk kamar mandi khusus sebaiknya dibuat untuk keperluan mereka, misalnya bak kamar mandi tidak terlalu dalam, tidak menggunakan tangga atau tanjakan. Demikian pula jamban dibuatkan sehinga mudah digunakan mereka dan pada dinding sebaiknya ada pegangan. Bila fasilitas terpenuhi mereka akan merasa aman dan bahayapun akan berkurang.
  6. Pengaturan tempat duduk waktu makan, istirahat bersama sebaiknya mempermudah mereka untuk melakukan interaksi sosial. Hindari susunan kursi / tempat duduk yang saling membelakangi, karena akan membuat para lansia tidak dapat berinteraksi dengan leluasa. Satu kelompok diusahakan antara 4 sampai 6 orang untuk suatu kegiatan agar lebih efisien.
  7. Biasakan mereka untuk memiliki kebiasaan yang positif misalnya buang sampah, meludah dan sebagainya pada tempat yang tersedia. Hindarkan mereka dari kebiasaan buruk seperti mengisolasi diri, menarik diri dari pergaulan dengan rekan-rekannya dan sebagainya.

0 comments:

Post a Comment

Warning !! Silahkan Copy paste asal tetap mencantumkan URL/Link Blog sebagai sumbernya. Powered by Blogger.